Selasa, 31 Mei 2016

Biru

Senja itu biru.
Pandanganku pun terpaku.
Bukan pada gunung yang sedang menangis.
Tapi pada kamu yang sedang menikmati hijau dan biru.
Matamu terus berputar.
Tapi pandangan ku tetap,
Tetap pada perasaan, imajinasi, pengalaman, dan kerinduan.
rasaku sebuah kritik atas prasangka terhadap akal, apa yang dulu merupakan aliran ku yang terpendam, kini menjadi aliran ku yang utama.
Imajinasiku bukan pada bunga yang membuka daun-daun dan kelopak-kelopak bunganya, tapi pada prosa ku yang bersajak kita.
Pengalamanku bukan tentang ironi romantik belaka, tapi pada suatu realita yang membentuk kita.
Kerinduanku bukan pada kosmik lama yang mengharu, tapi pada biru.
Biru itu semakin pekat, semakin mengikat. Semakin mendekap.