Jumat, 21 April 2017
Malam menjelang pagi
12 batang rokok kuhabiskan malam ini. Berbicara tentang keindahan. Keindahan menulis, keindahan berfantasi, keindahan mimpi masa depan. Yang 1 memikirkan dirinya sendiri dan yang 1 berfikir untuk kepentingan orang banyak dan berujung pada puisi. Puisi penggambaran sebuah gambar yang tak bisa digambarkan. Puisi tentang memeluk sesuatu yang semu, sepi, dingin dan berharap bukan ironi atau insinuasi. Yaaa itulah kami yang terputus karena pagi. Semoga esok berjumpa kembali dan membahas rintisan suatu mimpi.
Rabu, 05 April 2017
Birahi
Aku tak mengenali angin ini.
Kau begitu dingin.
Aku tak perduli.
Ku rasai, ku tatapi, ku cumbui.
Tapi aku tak menikmati.
Hambar, kosong.
Ku mulai berfantasi dengan mu.
Fantasi yang hanya menjumpai birahi.
Ku berdistraksi.
Tapi birahi itu semakin meninggi.
Aku terus mencari! Dan mencari!
Akhirnya aku dapati.
Bukan birahi!
Tapi apati.
Kau begitu dingin.
Aku tak perduli.
Ku rasai, ku tatapi, ku cumbui.
Tapi aku tak menikmati.
Hambar, kosong.
Ku mulai berfantasi dengan mu.
Fantasi yang hanya menjumpai birahi.
Ku berdistraksi.
Tapi birahi itu semakin meninggi.
Aku terus mencari! Dan mencari!
Akhirnya aku dapati.
Bukan birahi!
Tapi apati.
Langganan:
Komentar (Atom)