Rasa
Jumat, 21 April 2017
Malam menjelang pagi
12 batang rokok kuhabiskan malam ini. Berbicara tentang keindahan. Keindahan menulis, keindahan berfantasi, keindahan mimpi masa depan. Yang 1 memikirkan dirinya sendiri dan yang 1 berfikir untuk kepentingan orang banyak dan berujung pada puisi. Puisi penggambaran sebuah gambar yang tak bisa digambarkan. Puisi tentang memeluk sesuatu yang semu, sepi, dingin dan berharap bukan ironi atau insinuasi. Yaaa itulah kami yang terputus karena pagi. Semoga esok berjumpa kembali dan membahas rintisan suatu mimpi.
Rabu, 05 April 2017
Birahi
Aku tak mengenali angin ini.
Kau begitu dingin.
Aku tak perduli.
Ku rasai, ku tatapi, ku cumbui.
Tapi aku tak menikmati.
Hambar, kosong.
Ku mulai berfantasi dengan mu.
Fantasi yang hanya menjumpai birahi.
Ku berdistraksi.
Tapi birahi itu semakin meninggi.
Aku terus mencari! Dan mencari!
Akhirnya aku dapati.
Bukan birahi!
Tapi apati.
Kau begitu dingin.
Aku tak perduli.
Ku rasai, ku tatapi, ku cumbui.
Tapi aku tak menikmati.
Hambar, kosong.
Ku mulai berfantasi dengan mu.
Fantasi yang hanya menjumpai birahi.
Ku berdistraksi.
Tapi birahi itu semakin meninggi.
Aku terus mencari! Dan mencari!
Akhirnya aku dapati.
Bukan birahi!
Tapi apati.
Minggu, 28 Agustus 2016
Nihil
Lautan punya hempasan gelombang yang keras,
Dan adakalanya, rasanya begitu kuat,
Aku tak tahu banyak tentang lautan.
Tapi aku tahu tentang lautan itu disini.
Dan aku juga tahu betapa penting dalam hidup
Bukan untuk menjadi kuat, tapi untuk merasa kuat.
Untuk mengukur kemampuan dirimu setidaknya sekali saja.
Untuk tahu rasanya berada dalam hal paling purba dari sejarah manusia.
Menghadapi kebutaan dan ketulian sendiri, tanpa apapun yang membantumu kecuali tanganmu dan kepalamu sendiri.
Dan adakalanya, rasanya begitu kuat,
Aku tak tahu banyak tentang lautan.
Tapi aku tahu tentang lautan itu disini.
Dan aku juga tahu betapa penting dalam hidup
Bukan untuk menjadi kuat, tapi untuk merasa kuat.
Untuk mengukur kemampuan dirimu setidaknya sekali saja.
Untuk tahu rasanya berada dalam hal paling purba dari sejarah manusia.
Menghadapi kebutaan dan ketulian sendiri, tanpa apapun yang membantumu kecuali tanganmu dan kepalamu sendiri.
Jumat, 19 Agustus 2016
Insinuasi
Ada kebahagiaan disuatu tempat yg belum terjamah.
Ada juga kegairahaan di dalamnya.
Tiada pengganggu.
Pikirmu telah terhubung denganku.
Mendengarkan celotehan angin yang bisu.
Menikmati suara air yang merdu.
Bersetubuhku dengan sepimu.
Berbincangku tentang semu.
Kini. Tiada lagi angin. Tiada lagi air. Tiada lagi sepi.
Kini. Tersisa semu dan pengganggu.
perlahan aku berjalan pelan menyusuri kekosongan.
Berjalan semakin jauh menghampiri ironi.
Ada juga kegairahaan di dalamnya.
Tiada pengganggu.
Pikirmu telah terhubung denganku.
Mendengarkan celotehan angin yang bisu.
Menikmati suara air yang merdu.
Bersetubuhku dengan sepimu.
Berbincangku tentang semu.
Kini. Tiada lagi angin. Tiada lagi air. Tiada lagi sepi.
Kini. Tersisa semu dan pengganggu.
perlahan aku berjalan pelan menyusuri kekosongan.
Berjalan semakin jauh menghampiri ironi.
Kamis, 04 Agustus 2016
Jumantara
Ini itu seperti aku meraba.
Tapi teksturnya maya.
Jelas terlihat, tapi tak tersentuh.
Tapi Afeksi ku dinamis.
Meski hanya waktu obyektif yang di rasa.
Aku menikmatinya saat ini.
Seperti menikmati bau tanah yang terguyur hujan.
Tapi entah sampai kapan.
Sangat mengawang.
Dan semoga tak menghilang.
Tapi teksturnya maya.
Jelas terlihat, tapi tak tersentuh.
Tapi Afeksi ku dinamis.
Meski hanya waktu obyektif yang di rasa.
Aku menikmatinya saat ini.
Seperti menikmati bau tanah yang terguyur hujan.
Tapi entah sampai kapan.
Sangat mengawang.
Dan semoga tak menghilang.
Sabtu, 09 Juli 2016
Entah
Ini seperti kau sedang membaca buku dan buku ini yang sangat aku sukai.
Tapi sekarang aku membacanya perlahan-lahan.
Jadi kata-katanya benar-benar jauh di luar sana.
Diantara kata-kata yang tak terbatas.
Aku bisa berhenti merasakanmu dan kata-kata dari cerita kita.
Tapi, dalam ruang yang tak berujung ini, antara kata-kata,
Aku menemukan diriku sekarang.
Ini adalah tempat yang tidak diatas dunia fisik.
Ini tempat segala sesuatu yang lain.
Aku bahkan tak tahu itu ada.
Aku sangat menyayangimu.
Tapi, disinilah aku sekarang.
Inilah diriku sekarang.
Selasa, 05 Juli 2016
Dia ku kini untuknya?
Aku terhela membacanya.
Tinta itu amat bermakna.
Tak bernada, tidak pula berirama,
Meskipun aku tau itu bukan sajaknya.
Bukan juga goresan tintanya.
Tapi itu isinya.
Aku tak mengenalinya, tapi aku merasakannya.
Merasakan sebuah kemesraan tanda tanya.
Dia ku kini untuknya? Mungkin memang iya.
Sulit untuk membaca, karena aku tak berhak untuk bertanya.
Resah aku dengan tanda tanya.
Kembali ku mencerna, ku meraba, dan berkaca.
Percaya atau tidak. Disaat ku berkaca, cermin itu berkedip kearah ku dan bercerita bahwa aku telah terbuai realita.
Aku tersadar.
Cinta tak memberikan apa-apa.
Dan kita juga tak menghasilkan apa-apa.
Tinta itu amat bermakna.
Tak bernada, tidak pula berirama,
Meskipun aku tau itu bukan sajaknya.
Bukan juga goresan tintanya.
Tapi itu isinya.
Aku tak mengenalinya, tapi aku merasakannya.
Merasakan sebuah kemesraan tanda tanya.
Dia ku kini untuknya? Mungkin memang iya.
Sulit untuk membaca, karena aku tak berhak untuk bertanya.
Resah aku dengan tanda tanya.
Kembali ku mencerna, ku meraba, dan berkaca.
Percaya atau tidak. Disaat ku berkaca, cermin itu berkedip kearah ku dan bercerita bahwa aku telah terbuai realita.
Aku tersadar.
Cinta tak memberikan apa-apa.
Dan kita juga tak menghasilkan apa-apa.
Langganan:
Komentar (Atom)