Aku terhela membacanya.
Tinta itu amat bermakna.
Tak bernada, tidak pula berirama,
Meskipun aku tau itu bukan sajaknya.
Bukan juga goresan tintanya.
Tapi itu isinya.
Aku tak mengenalinya, tapi aku merasakannya.
Merasakan sebuah kemesraan tanda tanya.
Dia ku kini untuknya? Mungkin memang iya.
Sulit untuk membaca, karena aku tak berhak untuk bertanya.
Resah aku dengan tanda tanya.
Kembali ku mencerna, ku meraba, dan berkaca.
Percaya atau tidak. Disaat ku berkaca, cermin itu berkedip kearah ku dan bercerita bahwa aku telah terbuai realita.
Aku tersadar.
Cinta tak memberikan apa-apa.
Dan kita juga tak menghasilkan apa-apa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar